Rabu, 20 November 2013


Judul Pribadi “Nasehat diri”
Jazakumullah or Jazakumullah khair sering melintas di telinga atau di akhir Ta’limat, taujih dalam pesan singkat di kalangan kita para aktivis dakwah. Biasanya kata ini sering disingkat dengan “jzkl” saja di ujung pesan.
Sekilas judul ini seperti pilihan, pilihan dalam ucapannya yang tepat dan benar. Saya bukan menjurus di Bahasa Arab, bukan juga pandai dalam berbahasa Arab. Tak ada salahnya berbagi ketika dibagi.
“Afwan, pemakaian kata dalam bahasa Arab itu berbeda sebutan jika ia tertuju pada hanya satu orang Laki- laki atau pada satu orang Perempuan, Jazakallah itu ditujukan bagi seorang Laki- laki, Jazakillah bagi seorang Perempuan, Jazakumullah bagi banyak orang. Kemudian perlu diperjelas Jazakallah memiliki arti: Semoga ALLAH membalas, membalas apa?, tidak cukup dengan mengucap kata Jazakallah saja, akan tetapi ditambahkan Khair setelahnya, hingga bermakna: Semoga ALLAH membalas kebaikannya (-nya yang ditujukan), bukan mengajari ikan berenang.”
Paragraf di atas adalah Pesan singkat Sekretaris Umum PD KAMMI Medan Periode 2011-2013 (namanya pasti tau,hehee), sekitar 1 tahun yang lalu tertuju pada saya saat menanyakan suatu hal hingga diakhir pesan saya mengucap Jazakillah, yang secara penempatannya memang sangat salah. Ops.. kira- kira seperti itulah inti dari pesan yang Beliau sampaikan.
Yang membuat saya selalu teringat dari pesan beliau tersebut adalah kalimat akhir yang saya Bold kan, bermakna bahwa dalam mengajari/ menasehati seseorang bukan terus mencamkan kalau yang sedang dibuat orang lain itu adalah salah. “Bukan mengajari ikan berenang” berarti “mengingatkan ikan untuk berenang dengan baik”. Menasehati bukan menggurui.
Pengalaman salah adalah upaya dalam beranjak untuk tidak mengulangi kesalahan setelah diingatkan, yaa,,secara bahasa Arab kan bahasa Surga kita, jadi mesti belajar dari sekarang dunk tuk persiapan bahasa kita di Surga nanti, meski nanti memang langsung bisa..hehe setidaknya sudah diaplikasikan dari sekarang, kan gitu. Syukran katsir akhi, sangat bermanfaat bagi saya pribadi. Jazakallah khairan katsir. ^_~

Ukhti Susilawati~Koordinator Kaderisasi PK KAMMI UISU

Kamis, 25 April 2013

Seperti malam-malam sebelumnya kebiasaan kami tidak pernah berubah terutama setelah shalat maghrib berlalu. Kami yang masih kanak-kanak dengan 4 bersaudara mulai duduk bersila melingkari kakek yang duduk diatas kursi rotannya. Satu-persatu kami diabsen terlebih dahulu (bahasa sekarang), setelah kakek rasa sudah berkumpul semua maka Ia akan memulai ceritanya.
Aku yang masih berumur 5 tahun selalu menjadi cucu kesayangan kakek, dalam pangkuannya yang hangat, kusempatkan mataku menatap wajahnya perlahan-lahan dan memasukkannya dalam memory ingatan, Wajahnya  yang keriput, dan rambutnya yang semakin memutih. Seraya  mengamati cerita-ceritanya dirumah yang gelap tanpa listrik, yang ada hanya lampu dengan sumbu kain didalam botol berisi minyak tanah (teplok),   
            Sebelum kakek memulai ceritanya, Ia selalu bertanya terlebih dahulu cerita-cerita apa yang akan disampaikan kakek, agar kami tidak bosan dengan cerita-cerita yang hanya itu-itu saja. Suatu ketika kakek pernah bercerita dimasa kecilnya dulu pada saat zaman penjajahan belanda, disaat perang bergejolak mereka harus masuk dalam lubang didalam rumah yang mereka gali sendiri agar tidak tertangkap oleh belanda, pakaian yang mereka pakaipun hanya terbuat dari kulit kayu, yang sudah dilayukan, dengan makanan yang serba seadany yaitu ubi mentah yang dimasukkan dalam lubang tersebut. Cerita itu tak luput dari ingatanku, bagaimana bangsa kita dijajah dahulu.
            Seminggu telah berlalu kakek mulai pulih dari sakitnya, sudah seminggu kami tidak lagi mendengar cerita-ceritanya kami hanya bisa melihat kakek terkapar diatas tikar usangnya sambil menunggu kapan Ia akan pulih dan mulai bercerita tentang segalanya.
            Dimalam jum’at yang indah dipenuhi dengan cahaya rembulan yang terang, kakek mulai memulai cerita kembali, namun ada perubahan dalam dirinya. Kini kakek tidak lagi cerita tentang dunia, namun Ia bercerita tentang akhirat, dan hari kiamat, Aku yang tidak mengerti tentang hal-hal tersebut, tetap setia bagaimana biasanya. Namun  kerena rasa rinduku akan suaranya, aku tetap mengamatinya dan mendengar cerita-ceritanya.
            Suatu malam, ketika selesai shalat maghrib, kakek mengumpulkan kami, beserta nenek, malam itu hujan lebat, angin kencang, suara petir dengan cahayanya melintang dan berakar bagai memecah langit yang gelap,  semuanya sunyi, tetapi rembulan didapan kami masih saja terang, dan bersinar bahkan cahayanya tak pernah redup. Satu persatu kami mulai dipanggil “Ridho (kakak tertua), kamu adalah anak laki-laki kamu harus bisa menjaga adik-adikmu,”.         
“aisya, kamu adalah anak perempuan dan kamu harus bisa membersihkan rumah,”. Begitu juga dengan kakak ketiga ku.
 Dengan perlahan kakek menatapku, tanpa tersadar airmatanya mulai menetes. Dengan polosnya aku bertanya kenapa kakek menangis?, siapa yang memarahi kakek?, nanti aku yang marahi dia lagi!, pertanyaan yang tak seharusnya terucap olehku namun Ia hanya tersenyum, sambil mengelus kepalaku.
 kakek hanya berkata “jagan nakal khadijah, jadilah anak yang baik dan penurut membawa cahaya kedamaian seperti namamu yang amat dicintai Rasulullah SAW”, semuanya diam dan hening yang terdengar hanya suara hujan dan petir membawa ketakutan dalam hati. kami hanya dapat menunduk, bertanya-tanya dalam hati, apa yang terjadi, begitu juga nenek yang diam bagai patung tanpa kata, namun bagiku semua itu hanyalah sebuah ucapan, tanpa ada maknanya.  
             shalat shubuh, dengan biasa kakek membangunkan kami untuk shalat berjamaah. Aku yang masih kecil hanya ikut-ikutan mnegikuti gerakan mereka, ku tatap kakek lama terdiam dalam duduknya kemuadian Dia beranjak menatap kearah kiblat,  setelahnya kakek mandi, dan mulai tidur diatas tikar usangnya, kebiasaan itu agak berbeda bagiku, tidak biasanya kakek demikian.
 Rumah kecil kami mulai ramai, ramain dengan orang-orang yang sibuk kesana-kemari dengan suara tangisan yang tidak hentinya, kudapati nenek dan kakak-kakakku menangis memeluk tubuh kakek, tanpa tersadar Aku ikut juga dengan mereka. Banyak pertanyaan yang berkecamuk dihatiku (mengapa, kenapa), lama kelamaan aku mulai mengerti rembulanku sudah redup dan pergi, kini yang terlihat hanya bayangannya saja dalam ingatan, dan namanya,
 Dialah sosok ayah yang kukenal, dan sosok kakek yang amat ku cintai, Dialah orang tua kami, setelah kedua orang tua kami pergi manghadap sang Ilahi Robbi. Kini kusadari rembulan yang kubanggakan telah redup. Namun tetap terang dalam hatiku. 

Rabu, 24 April 2013



Demonstrasi,  sebuah kata yang sangat lazim kita dengar di berbagai media, mulai dari media cetak hingga  media elektronik. Kata demonstrasi menurut mahijanto, 1993 : 154 adalah merupakan suatu protes keras tentang ketidakadilan dan penyelewengan yang dilakukan banyak orang (disertai poester dan yel-yel.)

Metode demonstrasi ini mengandung nilai positif dan hal ini juga didukung dengan sejarah demonstrasi yang ada di Indonesia  pada saat rakyat melakukan  demonstrasi besar-besaran di Jakarta pada tanggal 12 Mei 1998 yang mengakibatkan runtuhnya kekuasaan Orde Baru dan beralih ke zaman Reformasi  karena Indonesia pada saat itu dilanda krisis di berbagai bidang yakni bidang politik, bidang ekonomi, bidang hukum dan krisis kepercayaan di kalangan masyarakat.

Selain itu metode demonstrasi ini juga dapat bernilai negative jika digunakan tidak sesuai dengan pengertian yang sebenarnya. Hal ini juga dapat dilihat dari beberapa aksi para demonstran yang seringkali berujung kepada pengrusakan  terhadap  aset publik seperti pengrusakan lampu lalu lintas yang mengakibatkan kemacetan dan berimbas kepada kerugian yang lebih besar karenanya.

Kaitan nilai demonstrasi dalam pespektif islam di tinjau dari salah satu hadist rasulullah yakni :

Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Dari hadist itu dapat di lihatlah bahwa ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik  yakni :

1.       Menentang pelaku kebatilan dan menolak kemunkaran adalah kewajiban yang dituntut dalam ajaran islam atas setiap muslim sesuai kemampuan dan kekuatannya.
2.       Ridho terhadap kemaksiatan termasuk diantara dosa-dosa besar.
3.       Sabar menanggung kesulitan dan amar ma’ruf nahi munkar.
4.       Amal merupakan buah dari iman, maka menyingkirkan kemunkaran juga merupakan buahnya keimanan.
5.   Mengingkari dengan hati diwajibkan kepada setiap muslim, sedangkan pengingkaran dengan tangan dan lisan berdasarkan kemampuannya